Pages

Thursday, November 28, 2013

9 Balances to Sustain Work-Life Balance



Karena berkutat di bidang pendidikan, saya sering sekali bertemu dengan hal-hal yang berhubungan dengan human resource development. Saya juga sering terinspirasi dengan tulisan-tulisan bapak Josef Bataona mengenai cara pandang beliau tentang karir dan talent management. Untuk itu lah saya jadi ketularan sering baca-baca artikel tentang HR dan pada akhirnya jadi punya perspektif sendiri tentang dunia HR, terutama tentang bagaimana mewujudkan Work-Life balance yang sangat dibutuhkan oleh para professional agar hidup dan pekerjaan bisa berkembang dengan baik.

Saya coba corat-coret akhirnya ketemu 9 keseimbangan yang membantu seimbangnya Work-Life balance. 9 hal tersebut saya bagi kedalam 3 kategori besar yaitu Secondary Balance, Primary Balance, dan Core Balance. Untuk penjelasanya akan saya jabarkan satu persatu:


Secondary Balance - Environmental Area

1. Prestige (Corporate Image, Building, & History)
Siapa yang tidak bangga memiliki karir cemerlang di perusahaan global seperti Apple, Google,  Microsoft, Samsung, Unilever, P&G, dan sebagainya. Tidak hanya memberikan kebanggaan dalam diri kita namun juga menjadi sebuah catatan penting dalam sejarah perjalanan karir seseorang. Pernah bekerja di sebuah perusahaan besar juga tentunya akan meningkatkan nilai jual kita di bursa tenaga kerja. Kebangaan kita terhadap tempat kerja kita memberikan motivasi besar di dalam karir kita yang pastinya akan ditempa oleh banyak tantangan dan ujian.

2. Social Environment (Friendship, Leadership, Team Work & Cultures)
Dulu waktu kuliah saya paling tidak suka dengan kerja kelompok karena kebetulan diri saya adalah tipe introvert. Tapi masuk ke dunia kerja sudah pasti pekerjaan dilakukan bersama-sama dengan atasan, teman sepantaran atau bawahan kita yang tentunya memiliki watak yang berbeda-beda. Bisa saja kita menemukan teman kerja kita yang bossy, gampang tersingung, kurang passion, atau mungkin terang-terangan tidak suka dengan diri kita. Untuk itu factor lingkungan social juga menjadi catatan penting bagaimana kita bisa tetap bersemangat dalam menjalanin karir kita. Menemukan lingkungan kerja yang kondusif tidak hanya membawa dampak pada produktifitas pekerjaan tetapi juga bisa membawa kepada pengalaman yang tak terlupakan seperti persahabatan dan persaudaraan.

3. Career Growth (Clear Career Path, Management Support & Job Challenges)
Di dalam karir, kita tidak ingin terus melakukan pekerjaan yang sama dari waktu ke waktu karena bukan hanya menimbulkan kebosanan tapi juga kita tidak bisa mengetahui potensi-potensi apalagi yang kita miliki sebenarnya. Perusahaan yang memiliki perencanaan yang jelas terhadap perjalanan karir seseorang dapat memotivasi karyawannya untuk tetap fokus terhadap sebuah goal atau pencapaian. Karyawan akan merasa dirinya dianggap, dihargai, dan diharapkan untuk tetap membuat kontribusi penting bagi perusahaan.

4. Learning Experience (Knowledge Discovery, Expertise Acquisition, & Network Opportunity)
Keuntungan dari menjalani sebuah pekerjaan tidak hanya melulu soal uang. Mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman di dalam sebuah pekerjaan tidak kalah pentingnya dengan keuntungan materi semata. Dengan bertambahnya ilmu maka kita bisa memperbaiki kualitas pekerjaan kita yang tentungya berkorelasi dengan pertambahan nilai kita sebagai professional di bursa tenaga kerja.



Primary Balance - Personal Area

5. Time Consumption (Commuting Hour, Working Hour, & Healthiness)
Beberapa pekerjaan yang saya tahu menuntut lebih dari 5 hari dalam seminggu. Tidak sedikit pekerjaan yang juga harus dilakukan di akhir pekan. Hal tersebut juga ditambah dengan banyaknya waktu yang dihabiskan ketika seseorang pergi dan pulang ke kantor, tergantung dari jarak tempuhnya. Kemacetan di Jakarta yang tak kunjung usai juga kembali menambah beban waktu dari seorang professional. Lamanya waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan menentukan kesehatan dan juga level kebahagiaan seseorang. Masalah waktu memang cukup krusial di dalam pemilihan pekerjaan atau karir seseorang.

6. Money & Benefits (Basic Salary, Bonus, Insurance, Tools & Others)
“Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang”. Teman-teman pasti tidak asing dengan pernyataan tersebut, pernyataan yang dilematis dimana uang merupakan hal penting dalam kehidupan tapi kita tidak boleh menggantungkan hidup kepada uang. Well, makna gaji atau uang juga bisa disamakan dengan benefit tunjangan berupa asuransi, bonus, peralatan kerja dan sebagainya, intinya yang bisa diukur dengan materi nilainya. Masalah uang cukup relative dan biasanya siapapun akan sulit untuk benar-benar puas terhadap gaji yang ia peroleh saat ini.

7. Passion (Hobby & Interest)
Kata “Passion” adalah mantra di dunia karir. Semua orang harus menemukan passion dalam pekerjaannya agar bahagia, agar tidak merasa bekerja ketika sedang melakukan pekerjaanya sehari-hari. Passion muncul dari sesuatu yang kita anggap adalah hobi atau interest kita terhadap sebuah hal. Passion tidak melulu datang tepat waktu. Passion juga bisa berevolusi dari waktu ke waktu, bisa berubah. Passion dilain hal juga bisa diciptakan di dalam sebuah pekerjaan ketikan keadaan kondusif, seperti dukungan dari teman terdekat atau manajemen. Apapun itu memang seseorang harus menemukan passion di dalam pekerjaan, karena bila tidak ia akan sangat mudah terdemotivasi, mudah bosan, dan seringnya tidak memahami apa yang sebenarnya ia lakukan di dalam pekerjaanya. Tidak punya meaning dalam kehidupan karirnya.


Core Balance - Really Personal Area

8. Belief (Idealism / Dreams / Vision)
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki harapan dan impian masing-masing. Ada beberapa orang yang menjalani karirnya di  NGO karena ingin menyalurkan semangatnya di dalam dunia kemanusiaan. Ada juga seseorang yang lebih memilih bekerja di daerah karena lebih menemukan kedamaian dibanding bekerja di ibu kota. Semua hal itu digerakan oleh sesuatu hal yang ada di dalam diri manusia. Idealisme, mimpi, atau visi ada di semua benak manusia dan hal tersebut ikut mendorong bentuk perjalanan karir seseorang.

9. Religion (Right or Wrong)
Sebagai seorang muslim saya sangat menghindari produk-produk yang berhubungan dengan minuman alcohol, rokok, dan juga alat kontrasepsi. Kesemuanya itu dianggap memiliki lebih banyak mudharat (keburukan) dibandingkan dengan manfaat. Aturan di dalam Islam sudah jelas melarang hal-hal tersebut, untuk itu bagi mereka yang tetap memegang kuat agamanya, permasalahan yg juga mendasar di dalam sebuah karir adalah apakah pekerjaan yang kita lakukan dibenarkan atau dilarang di dalam agama. Bila menemukan pelanggaran harus kita tinggalkan bila tidak ada pelanggaran kita tetap bisa melanjutkan.

9 keseimbangan di atas bisa saja berbeda-beda dan sangat unik bila ditempatkan di masing-masing orang. Ada beberapa orang yang mungkin menganggap bahwa uang adalah core balance dia dan harus menjadi tujuan utama di dalam karir. Ada juga yang mementingkan passion di atas segalanya. Semuanya dihubungkan dengan konsep diri dari masing-masing orang juga bisa disesuaikan dengan umur, pengalaman bekerja, tingkat pendidikan, harapan dari orang-orang terdekat dan juga situasi dan kondisi yang sedang dialami oleh orang yang bersangkutan. Harapan saya semoga 9 keseimbangan ini bisa menjadi tolak ukur bagi seseorang dalam merencanakan karirnya atau yang sedang mengevaluasi ulang karir yang sedang dijalani. Semoga teman-teman mendapatkan Work-Life balance melalui perspektif ini.


No comments: