Pages

Thursday, November 28, 2013

9 Balances to Sustain Work-Life Balance



Karena berkutat di bidang pendidikan, saya sering sekali bertemu dengan hal-hal yang berhubungan dengan human resource development. Saya juga sering terinspirasi dengan tulisan-tulisan bapak Josef Bataona mengenai cara pandang beliau tentang karir dan talent management. Untuk itu lah saya jadi ketularan sering baca-baca artikel tentang HR dan pada akhirnya jadi punya perspektif sendiri tentang dunia HR, terutama tentang bagaimana mewujudkan Work-Life balance yang sangat dibutuhkan oleh para professional agar hidup dan pekerjaan bisa berkembang dengan baik.

Saya coba corat-coret akhirnya ketemu 9 keseimbangan yang membantu seimbangnya Work-Life balance. 9 hal tersebut saya bagi kedalam 3 kategori besar yaitu Secondary Balance, Primary Balance, dan Core Balance. Untuk penjelasanya akan saya jabarkan satu persatu:


Secondary Balance - Environmental Area

1. Prestige (Corporate Image, Building, & History)
Siapa yang tidak bangga memiliki karir cemerlang di perusahaan global seperti Apple, Google,  Microsoft, Samsung, Unilever, P&G, dan sebagainya. Tidak hanya memberikan kebanggaan dalam diri kita namun juga menjadi sebuah catatan penting dalam sejarah perjalanan karir seseorang. Pernah bekerja di sebuah perusahaan besar juga tentunya akan meningkatkan nilai jual kita di bursa tenaga kerja. Kebangaan kita terhadap tempat kerja kita memberikan motivasi besar di dalam karir kita yang pastinya akan ditempa oleh banyak tantangan dan ujian.

2. Social Environment (Friendship, Leadership, Team Work & Cultures)
Dulu waktu kuliah saya paling tidak suka dengan kerja kelompok karena kebetulan diri saya adalah tipe introvert. Tapi masuk ke dunia kerja sudah pasti pekerjaan dilakukan bersama-sama dengan atasan, teman sepantaran atau bawahan kita yang tentunya memiliki watak yang berbeda-beda. Bisa saja kita menemukan teman kerja kita yang bossy, gampang tersingung, kurang passion, atau mungkin terang-terangan tidak suka dengan diri kita. Untuk itu factor lingkungan social juga menjadi catatan penting bagaimana kita bisa tetap bersemangat dalam menjalanin karir kita. Menemukan lingkungan kerja yang kondusif tidak hanya membawa dampak pada produktifitas pekerjaan tetapi juga bisa membawa kepada pengalaman yang tak terlupakan seperti persahabatan dan persaudaraan.

3. Career Growth (Clear Career Path, Management Support & Job Challenges)
Di dalam karir, kita tidak ingin terus melakukan pekerjaan yang sama dari waktu ke waktu karena bukan hanya menimbulkan kebosanan tapi juga kita tidak bisa mengetahui potensi-potensi apalagi yang kita miliki sebenarnya. Perusahaan yang memiliki perencanaan yang jelas terhadap perjalanan karir seseorang dapat memotivasi karyawannya untuk tetap fokus terhadap sebuah goal atau pencapaian. Karyawan akan merasa dirinya dianggap, dihargai, dan diharapkan untuk tetap membuat kontribusi penting bagi perusahaan.

4. Learning Experience (Knowledge Discovery, Expertise Acquisition, & Network Opportunity)
Keuntungan dari menjalani sebuah pekerjaan tidak hanya melulu soal uang. Mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman di dalam sebuah pekerjaan tidak kalah pentingnya dengan keuntungan materi semata. Dengan bertambahnya ilmu maka kita bisa memperbaiki kualitas pekerjaan kita yang tentungya berkorelasi dengan pertambahan nilai kita sebagai professional di bursa tenaga kerja.



Primary Balance - Personal Area

5. Time Consumption (Commuting Hour, Working Hour, & Healthiness)
Beberapa pekerjaan yang saya tahu menuntut lebih dari 5 hari dalam seminggu. Tidak sedikit pekerjaan yang juga harus dilakukan di akhir pekan. Hal tersebut juga ditambah dengan banyaknya waktu yang dihabiskan ketika seseorang pergi dan pulang ke kantor, tergantung dari jarak tempuhnya. Kemacetan di Jakarta yang tak kunjung usai juga kembali menambah beban waktu dari seorang professional. Lamanya waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan menentukan kesehatan dan juga level kebahagiaan seseorang. Masalah waktu memang cukup krusial di dalam pemilihan pekerjaan atau karir seseorang.

6. Money & Benefits (Basic Salary, Bonus, Insurance, Tools & Others)
“Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang”. Teman-teman pasti tidak asing dengan pernyataan tersebut, pernyataan yang dilematis dimana uang merupakan hal penting dalam kehidupan tapi kita tidak boleh menggantungkan hidup kepada uang. Well, makna gaji atau uang juga bisa disamakan dengan benefit tunjangan berupa asuransi, bonus, peralatan kerja dan sebagainya, intinya yang bisa diukur dengan materi nilainya. Masalah uang cukup relative dan biasanya siapapun akan sulit untuk benar-benar puas terhadap gaji yang ia peroleh saat ini.

7. Passion (Hobby & Interest)
Kata “Passion” adalah mantra di dunia karir. Semua orang harus menemukan passion dalam pekerjaannya agar bahagia, agar tidak merasa bekerja ketika sedang melakukan pekerjaanya sehari-hari. Passion muncul dari sesuatu yang kita anggap adalah hobi atau interest kita terhadap sebuah hal. Passion tidak melulu datang tepat waktu. Passion juga bisa berevolusi dari waktu ke waktu, bisa berubah. Passion dilain hal juga bisa diciptakan di dalam sebuah pekerjaan ketikan keadaan kondusif, seperti dukungan dari teman terdekat atau manajemen. Apapun itu memang seseorang harus menemukan passion di dalam pekerjaan, karena bila tidak ia akan sangat mudah terdemotivasi, mudah bosan, dan seringnya tidak memahami apa yang sebenarnya ia lakukan di dalam pekerjaanya. Tidak punya meaning dalam kehidupan karirnya.


Core Balance - Really Personal Area

8. Belief (Idealism / Dreams / Vision)
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki harapan dan impian masing-masing. Ada beberapa orang yang menjalani karirnya di  NGO karena ingin menyalurkan semangatnya di dalam dunia kemanusiaan. Ada juga seseorang yang lebih memilih bekerja di daerah karena lebih menemukan kedamaian dibanding bekerja di ibu kota. Semua hal itu digerakan oleh sesuatu hal yang ada di dalam diri manusia. Idealisme, mimpi, atau visi ada di semua benak manusia dan hal tersebut ikut mendorong bentuk perjalanan karir seseorang.

9. Religion (Right or Wrong)
Sebagai seorang muslim saya sangat menghindari produk-produk yang berhubungan dengan minuman alcohol, rokok, dan juga alat kontrasepsi. Kesemuanya itu dianggap memiliki lebih banyak mudharat (keburukan) dibandingkan dengan manfaat. Aturan di dalam Islam sudah jelas melarang hal-hal tersebut, untuk itu bagi mereka yang tetap memegang kuat agamanya, permasalahan yg juga mendasar di dalam sebuah karir adalah apakah pekerjaan yang kita lakukan dibenarkan atau dilarang di dalam agama. Bila menemukan pelanggaran harus kita tinggalkan bila tidak ada pelanggaran kita tetap bisa melanjutkan.

9 keseimbangan di atas bisa saja berbeda-beda dan sangat unik bila ditempatkan di masing-masing orang. Ada beberapa orang yang mungkin menganggap bahwa uang adalah core balance dia dan harus menjadi tujuan utama di dalam karir. Ada juga yang mementingkan passion di atas segalanya. Semuanya dihubungkan dengan konsep diri dari masing-masing orang juga bisa disesuaikan dengan umur, pengalaman bekerja, tingkat pendidikan, harapan dari orang-orang terdekat dan juga situasi dan kondisi yang sedang dialami oleh orang yang bersangkutan. Harapan saya semoga 9 keseimbangan ini bisa menjadi tolak ukur bagi seseorang dalam merencanakan karirnya atau yang sedang mengevaluasi ulang karir yang sedang dijalani. Semoga teman-teman mendapatkan Work-Life balance melalui perspektif ini.


Wednesday, November 27, 2013

How to be a Digital Marketer? Part 4 – Network Graph



Di ulang tahunnya yang ke 15 tanggal 27 September 2013 kemarin, Google mengumumkan update terbaru dari algoritma mesin pencariannya yang diberi nama Google Hummingbird. Salah satu perkembangan dari algoritma terbaru ini adalah fitur Conversational Search. Fitur terbaru ini memungkinkan kita melakukan aktifitas pencarian sebuah kata kunci (keyword) dengan cara bertanya seperti layaknya kita bertanya kepada manusia. Contohnya seperti bertanya “siapa itu Abraham Lincoln? Dimana dia lahir? Siapa nama pembunuhnya?” rentetan pertanyaan tersebut bisa dilakukan secara terus menerus dibandingkan harus membuat 3 kata kunci untuk mendapatkan 3 jawaban dari informasi tersebut. Pada perkembanganya, Google juga melengkapi kecanggihan teknologi mesin pencariannya dengan Knowledge Graph dimana Google tidak hanya mengindex begitu banyak konten web tetapi juga mempelajari hubungan antara konten tersebut disertai dengan mempelajari perilaku orang-orang yang mencari konten tersebut.

Pada bagian ini saya akan membahas tentang ide dasar internet ya itu sebuah jaringan yang menghubungkan antara komputer dengan komputer di seluruh dunia. Ini menjadi hal yang mendasar bagi siapa saja yang ingin berkarir di bidang digital marketing karena ia harus mengetahui secara umum bagaimana internet bekerja, bagaimana mekanisme interaksi website yang terhubung di dalam jaringan internet.

Page Rank
Google menggunakan Page Rank sebagai standarisasi atau pengukuran website atau halaman website mana yang memiliki kualitas konten yang relevan dengan hasil pencarian kata kunci melalui mesin pencarian Google. Kriteria dari halaman website yang memiliki kualitas adalah yang memenuhi factor-faktor seperti clickthrough rate, originality content, number of unique authors, author credentilas (aunthorship rank), external sources and citations.

Facebook Graph Search



Facebook sebagai jejaring social terbanyak di dunia tentunya memiliki begitu banyak data tentang para penggunanya. Dari tempat kelahiran, status hubungan, daftar musik dan film yang teman-teman kita suka, produk yang orang tua kita pakai dan banyak lainnya. Dengan keuntungan tersebut, Facebook menciptakan Graph Search yang merupakan sebuah fitur mesin pencarian di dalam situs Facebook namun dengan sebuah keunggulan yang berbeda. Fitur mesin pencarian tersebut bisa membantu untuk menemukan teman-teman kita di Facebook yang juga pernah mengunjungi sebuah tempat yang ingin kita kunjungi. Bisa juga mencari siapa saja teman sekolah kita yang juga menyukai grup band atau music tertentu. Facebook Graph Search membantu kita untuk menemukan data dari begitu banyak data yang saling terkoneksi satu sama lain di Facebook.

Klout Score


Influence menjadi sebuah istilah yang sangat trend di dunia social media. Ini disebabkan bahwa kini tidak hanya para media owner yang memiliki influence untuk mempengaruhi persepsi public tapi setiap orang kini juga memiliki influence untuk mempengaruhi orang lain melalui akun social media miliknya. Untuk mengukur influence, cukup banyak perusahaan yang menawarkan alat pengukuran beserta standar perhitungannya. Salah satu dari perusahaan-perusahaan tersebut adalah Klout. Setiap orang yang memiliki akun di social media memiliki angka Klout, angka tersebut diperoleh dari beberapa social media yang dimiliki oleh seseorang seperti Facebook, Twitter, Linkedin dsb. Jumlah dari masing-masing akun di social media tersebut diakumulasikan dan kita memperoleh angka tersebut. Bisa jadi ada seseorang yang tidak terlalu memiliki banyak influence di Twitter namun memiliki influence yang hebat di YouTube atau Facebook maka angka influence-nya angka bisa terangkat dibandingkan dengan orang yang hanya punya influence di Twitter. Semua proses ini memiliki algoritma dari mesin komputer yang memahami data antar data dari sebuah akun social media.

Big Data
Memahami interaksi antara komputer dengan komputer sama dengan memahami bagaimana data dihubungkan dengan data lainnya kemudian diproses menjadi sebuah pemahaman. Data di Internet dihasilkan begitu banyaknya sehingga memunculkan istilah Big Data. Data yang pada detik ini juga sedang dihasilkan oleh seluruh pengguna internet di dunia tidak hanya menghasilkan volume data yang sangat besar tapi juga kecepatan pembuatanya serta variasi dari data tersebut. Kita mengenal bahwa kita hidup di era informasi, untuk itulah bagi mereka yang memahami bagaimana pemanfaatan komputer dalam mengelola data / informasi, mereka yang akan mendapatkan keuntungan tersebut.



Saturday, September 28, 2013

How to be Digital Marketer? Part 3 - Computer Mediated Communication

Digital Communication Model by Primaretha (2013)


Anak muda hari ini sering disebut dengan “Generasi Menunduk” karena keterhubungannya dengan gadget seperti smartphone atau tablet yang luar biasa. Lihat saja bila ada anak muda yang sedang ngumpul, mereka terlihat lebih memilih asik dengan gadgetnya masing-masing. Entah itu browsing mencari informasi atau asik texting dengan teman-teman yang lokasinya berjarak jauh. Isu ini dibawa lebih serius ketika para “Generasi Menunduk” tersebut berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Terlihat tidak etis karena anak muda sekarang terlihat tidak acuh dengan keadaan sekitar.

Praktek komunikasi melalui komputer memiliki dampak social karena merubah tradisi komunikasi kita yang bisa dilakukan secara tatap muka (face to face communication) menjadi lebih sering menggunakan komputer sebagai medium untuk kita berbicara, berkomunikasi dengan orang lain. Tentunya hal ini menimbulkan efek positif dan negatif secara bersamaan. Untuk itu mari kita telaah lebih dalam isu tentang bagaimana kekhasan komunikasi antata manusia yang dimediasi oleh komputer sebagai perantara.


Online Identity






Gambar diatas cukup menekankan bahwa identitas kita di dunia maya bisa dimanipulasi sedimikian rupa. Karena tidak bertemu secara fisik, maka kita bisa saja menipu orang lain tentang diri kita. Para pelaku cyber crime sering memanfaatkan hal ini untuk meraih keuntungan melalui kejahatan dunia maya yang mereka lakukan. Di level keseharian anak muda pun tidak luput dari hal ini.  Contohnya cyber bullying dimana seseorang masuk ke dalam profil Facebook temannya kemudian menuliskan konten-konten yang tidak senonoh hanya atas nama bercanda. Ini juga sering terjadi di kontak BBM temen kita dan biasanya berakhir dengan mengganti status BBM menjadi “Dibajak ;(“.

Berbicara tentang online identity juga bicara tentang bagaimana kita menyampaikan identitas kita kepada lawan bicara kita. Di komunikasi hal ini dikenal dengan Impression Management, tentang bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain. Bagaimana kita berpakaian, bahasa, dan juga menyangkut perilaku. Persoalan tersebut juga berlaku di dunia online, malah bisa jadi lebih kompleks. Coba anda berkaca tentang pemilihan foto yang anda pakai di semua situs jejaring social anda, juga tentang bio atau tweet yang anda tulis di Twitter. Tentunya semua dibuat sedemikian rupa untuk merepresentasikan siapa diri anda dan juga ingin seperti apa anda dimengerti oleh orang lain.


Hyperpersonal

Saya punya pertanyaan buat para pembaca, mana yang lebih efektif, komunikasi tatap muka atau komunikasi melalui komputer? Saya yakin pasti banyak yg beranggapan bahwa komunikasi tatap muka jawaban yang benar. Sebenarnya tidak salah tapi juga tidak sepenuhnya benar karena terkadang, dalam konteks CMC, komunikasi melalui medium komputer justru lebih efektif. Hyperpersonal adalah konsep yang menjelaskan bahwa komputer mampu membawa komunikasi antar manusia tidak hanya menjadi personal tapi juga menjadi hyperpersonal. Dulu butuh waktu beberapa saat bagi seseorang yang baru kenal bisa melihat album foto kita ketika masih kecil. Tapi bagaimana dengan pertemanan yang baru terjalin di Facebook? Mereka, teman baru kita langsung bisa melihat foto-foto kita dengan keluarga, teman-teman sekolah kita atau mungkin foto kita ketika kecil. Sekejap teman baru kita jadi orang yang paling mengenal kita karena kehidupan pribadi kita bisa dipelajari melalui status Facebook, unggahan foto kita dan juga perjalanan hubungan pribadi kita. Ini juga berlaku di Twitter dimana kita bisa dikenali dengan cukup melihat dengan siapa kita berteman (following) dan kita disukai oleh siapa (follower). CMC menjadi hyperpersonal dibanding FTF (face to face communication).


Alone Together

Sherry Turkle, seorang professor studi sosial dari MIT, menerbitkan buku berjudul Alone Together di tahun 2011. Buku tersebut menjelaskan bagaimana ketergantungan kita terhadap teknologi dibandingkan dengan orang lain. Jutaan orang kini mengandalkan smartphone sebagai asisten pribadi untuk menjalankan segala tugas. Anggapan “lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan handphone” mungkin yang paling tepat menggambarkan trend ketagihan teknologi ini. Coba anda hitung dalam satu hari berapa kali anda mengecek handphone anda. Sudah? Coba anda bandingkan dengan jumlah orang yang anda ajak bicara dalam satu hari. Buat yang sudah ketergantungan dengan smartphone pasti kaget dengan perbandingan jumlahnya.




Berdasarkan riset Sherry, anak muda hari ini juga jauh lebih memilih komunikasi melalui text dibandingkan dengan komunikasi tatap muka. Alasanya adalah kita tidak dapat mengedit apa yang akan kita katakana dibandingkan dengan komunikasi tatap muka yang mengalir apa adanya. Kebiasaan mengenyampingkan komunikasi tatap muka ini yang akhirnya secara psikis kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan emosi dari orang yang kita ajak bicara. Ini yang membuat kita menjadi sesuatu yg Sherry sebut sebagai “Social Robot”.

Selanjutnya “How to be a Digital Marketer? Part 3 – Network Graph”




Friday, September 27, 2013

How to be Digital Marketer? Part 2 - Human Computer Interaction

Digital Communication Model by Primaretha (2013)


Tidak dapat dipungkiri di era informasi ini kita semakin mengandalkan komputer untuk membantu segala urusan kita. Transaksi uang melalui mesin ATM, instant messaging melalui smartphone, mengirim email melalui tablet, mengerjakan pekerjaan design dengan laptop, semuanya atas bantuan dari komputer sehingga kita dapat menyelesaikan keperluan kita. Pekerjaan digital marketing tidak hanya ditentukan oleh seberapa jago kita bisa menggunakan perangkat komputer melainkan kita juga harus paham seberapa jauh audiens kita mampu mengoperasikan beberapa perangkat komputer dengan baik, entah itu smartphone, tablet, laptop dan juga bagaimana mereka mengakses informasi di perangkat-perangkat tersebut. 


Human Computer Interface

Seperti kita tahu saat ini sedang ramai-ramainya orang mengadopsi touch screen sebagai cara untuk berinteraksi dengan gadget yang dimilikinya. Pada awalnya saya sendiri masih sangat gagap ketika menggunakan iPad. baru setelah beberapa waktu mulai terbiasa. Bagaimana nanti kedepanya ketika perangkat smartphone sudah beralih ke wearable technology. Kita lihat saja Samsung sudah mengeluarkan Galaxy Gear Watch, sebuah jam yang menggantikan smartphone. Belum lagi kehadiran intelligent personal assistant yang semakin canggih seperti Siri dimana interaksi manusia dan computer hanya tinggal menggunakan mulut untuk berbicara layaknya antara manusia dengan manusia lainnya.





Teman-teman pasti sudah kenal Google Glass. Bayangkan bila semua orang sudah menggunakan perangkat tersebut. Anak-anak muda sudah tidak lagi disebut generasi menunduk karena harus melihat smartphone di tangan mereka. Layar komputer bisa diakses langsung melalui kacamata yang kita pakai juga dengan bantuan suara dan hanya bantuan gerakan tangan di batang kacamata. Aktifitas foto dan merekam video bisa dilakukan langsung dengan kacamata, kita bisa mengabadikan segala hal yang mata kita lihat dengan lebih cepat dibandingkan harus menyiapkan smartphone terlebih dahulu.

Smartphone memang canggih, wearable gadget seperti Google Glass apalagi, tapi bagaimana bila interaksi kita dengan computer tanpa menggunakan perantara sama sekali? Buat anda yang suka nonton seri film Iron Man pasti bisa menebak maksud saya apa. Yup, teknologi hologram dimana interaksi kita dengan computer bisa dibilang tidak lagi dibatasi oleh sebuah perantara. Tidak ada layar atau gadget melainkan fungsi computer bisa muncul langsung di hadapan kita dan bisa kita pegang langsung secara fisik untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.


 Information Architecture

Internet merupakan wadah yang berisikan begitu banyak informasi yang dituangkan ke dalam bentuk website, blog, forum, social network, microblog dan banyak lagi bentuknya. Untuk menampilkan informasi yang begitu banyak, dibuatlah semacam struktur informasi untuk memudahkan para visitor yang mengunjungi website atau bisa juga sebuah software. Pekerjaan ini biasa dikenal dengan sebutan Information Architecture, sebuah pekerjaan mengelola informasi agar pengguna mudah untuk menemukan, mencerna dari satu informasi ke informasi yang lain. Contoh sederhanya adalah navigation tab yang biasanya berada di paling atas sebuah website. Para website developer biasanya akan dihadapkan pada pertanyaan tentang menu-menu apa saja yang akan ditaruh di main navigation. Tentunya, pemilihan menu informasi website tersebut dilandaskan pada konten-konten apa saja yang ingin disajikan kepada pengunjung websitenya.


User Experience

Setelah menyajikan informasi yang tepat, tugas dari seorang pembuat website atau digital marketer pada umumnya adalah menjadikan medium digital (website, social media, atau mobile apps) menjadi mudah dan menarik untuk digunakan oleh pengguna. Alur informasi, interaksi menu ke menu, dan juga desain visual perlu diperhatikan dengan seksama untuk memaksimalkan user experience ini. Terkadang kita ingin menunjukan website yang sangat canggih tapi ketika pengguna ingin masuk ke dalam website tersebut malah mendapat kendala waktu loading yang begitu lama sehingg pada akhirnya malah tidak dapat digunakan. Terkadang juga factor kompabilitas sering menjadi masalah dari user experience, contoh ada website yang jalan di browser Google Chrome tapi tidak bisa dijalankan di browser lainnya seperti di Mozilla atau Opera.

Selanjutnya How to be Digital Marketer? Part 3 - Computer Mediated Communication

Thursday, September 19, 2013

How to be Digital Marketer? Part 1 - Living in Internet World

Internet World from Mashable.com
Bagi seorang Introvert, tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menjalani aktifitas “rumahan” seperti nonton TV, bermain Playstation, baca komik, dan berselancar di Internet. Jaman SMP dulu sebelum Internet masuk rumah, saya bela-belain hemat uang jajan hanya untuk bisa berjam-jam nongkrong di warung internet. Social media belum popular ketika itu. MiRC dan Yahoo Messenger jadi andalan anak muda yang gandrung dengan dunia maya. Siapa yang tidak tertarik bisa ngobrol dengan orang-orang di seluruh dunia dengan hanya bermodalkan computer desktop? Saya sendiri yang kurang jago mengoperasikan komputer lebih suka main YM ketimbang MiRC karena jauh lebih mudah digunakan dan tampilanya pun menarik dibandingkan tampilan bahasa pemograman ala MiRC.

Beranjak SMA, hobi berselancar di dunia maya semakin giat karena kehadiran dari jejaring social pertama yang saya kenal, Friendster. Keren banget ada sebuah situs yang mengakomodir kita untuk berkenalan dan berkomunikasi dengan orang-orang di seluruh dunia. Tentu jejaring social seperti Friendster tidak hanya persoalan berbalas pesan di dunia maya layaknya email, tetapi fitur profile page yang dilengkapi oleh avatar, bio, album foto pribadi dan juga testimonial dari teman-teman yang membuat Friendster menjadi sangat spesial.


Kecintaan bermain di Internet seperti browsing, YM, Friendster dan lainnya membuat saya berpikir tentang bagaimana bila hobi saya ini bisa menghasilkan uang atau malah menjadi mata pencaharian utama saya. Bukankah ada perkataan yang menyebutkan kurang lebih bahwa ketika kita menemukan pekerjaan yang kita cintai maka selamanya kita tidak akan pernah merasa bekerja. Karena alasan tersebut, saya berusaha mencari tahu apakah ada cara yang bisa saya lakukan untuk mulai merintis karir atau usaha di bidang internet. Setelah googling sana sini, ketemulah bisnis affiliate marketing ala Anne Ahira yang waktu jaman itu juga beliau cukup terkenal karena kisah kesuksesannya sering dimuat di media massa. Saya pelajari hampir tiap hari setelah pulang sekolah menyempatkan diri ke warnet untuk bagaimana cara bekerja bisnis affiliate marketing itu. Cukup pusing bagi saya untuk memahami konsep baru dimana saya tidak punya basic marketing apalagi tentang internet. Saya tidak begitu paham komputer.

Singkat cerita, saya ikutan jadi member Asian Brain dan akhirnya dapet modul-modul tentang affiliate dan internet marketing. Gara-gara itu juga jadi kenal istilah Search Engine Optimization, Adwords, Domain Parking dan beberapa istilah internet lainnya. Baru kenal saja tapi belum terlalu mendalam bagaimana mereka sebenernya bekerja. Pada akhirnya usaha saya bergabung di Asia Brain hanya menghasilkan $48 hingga saat ini di Adsense, bisa dibilang gagal tapi tidak sepenuhnya karena saya sudah mulai membuat progress untuk mengerti bagaimana dunia internet itu bekerja.

Beberapa tahun setelah itu Facebook menjadi idola di dunia internet mengalahkan Friendster dengan fitur photo tagging yg cukup disruptive. Kemudian disusul dengan Twitter yang makin mengukuhkan dimulainya era social media di Indonesia. Internet marketing tidak melulu soal search engine setelah itu, karena ada social media seperti Facebook dan Twitter yang kehadirannya perlu diperhitungkan di dunia internet marketing. Semua orang mulai menekuni social media marketing termasuk saya, mencari apa saja yang bisa menghasilkan keuntungan dari trend baru ini. Usaha saya menekuni dunia social media membuahkan hasil dengan perkenalan saya dengan mentor digital marketing pertama saya, Mas Tuhu Nugraha. Bersama mas Tuhu saya bergabung dengan Virtual Consulting, perusahaan digital agency yang dimiliki oleh Internet Guru Pak Nukman Luthfie. Klien pertama saya Toyota dengan produk mobil Yaris. Bersama Virtual Consulting saya melakukan project social media marketing yang bisa dibilang cukup perdana di tahun 2009. Waktu itu masih menggunakan medium Facebook dan harus susah payah melakukan measurement secara manual karena belum ada fitur Facebook Insight. 

Majalah The Markeeter pernah mengulas pekerjaan social media Yaris dengan tajuk artikel "Yaris Tampil Manusiawi di Facebook". Menunjukan bahwa brand yang terjun di social media memang harus tampil seperti manusia, seperti konsumennya. Dan tentunya dengan adanya social media, brand bisa melakukan percakapan dua arah dimana menjadi sesuatu yang tidak didapat di media tradisional sebelumnya. Karakter dari social media yang kental dengan ilmu komunikasi membantu saya untuk menekuni bidang ini hingga sekarang.

Melalui artikel pembuka ini saya mencoba untuk memberikan kerangka keilmuan yang harus diperdalam ketika seseorang ingin masuk ke dalam pekerjaan digital marketing. Setelah ini akan dibahas tentang konsep Digital Communication yang terbagi ke dalam 3 elemen yaitu Human Computer Interaction, Computer Mediated Communication dan Network Graph. Berikut gambaran konsepnya sebagai rujukan:


Digital Communication Model by Andi Primaretha