Pages

Thursday, September 19, 2013

How to be Digital Marketer? Part 1 - Living in Internet World

Internet World from Mashable.com
Bagi seorang Introvert, tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menjalani aktifitas “rumahan” seperti nonton TV, bermain Playstation, baca komik, dan berselancar di Internet. Jaman SMP dulu sebelum Internet masuk rumah, saya bela-belain hemat uang jajan hanya untuk bisa berjam-jam nongkrong di warung internet. Social media belum popular ketika itu. MiRC dan Yahoo Messenger jadi andalan anak muda yang gandrung dengan dunia maya. Siapa yang tidak tertarik bisa ngobrol dengan orang-orang di seluruh dunia dengan hanya bermodalkan computer desktop? Saya sendiri yang kurang jago mengoperasikan komputer lebih suka main YM ketimbang MiRC karena jauh lebih mudah digunakan dan tampilanya pun menarik dibandingkan tampilan bahasa pemograman ala MiRC.

Beranjak SMA, hobi berselancar di dunia maya semakin giat karena kehadiran dari jejaring social pertama yang saya kenal, Friendster. Keren banget ada sebuah situs yang mengakomodir kita untuk berkenalan dan berkomunikasi dengan orang-orang di seluruh dunia. Tentu jejaring social seperti Friendster tidak hanya persoalan berbalas pesan di dunia maya layaknya email, tetapi fitur profile page yang dilengkapi oleh avatar, bio, album foto pribadi dan juga testimonial dari teman-teman yang membuat Friendster menjadi sangat spesial.


Kecintaan bermain di Internet seperti browsing, YM, Friendster dan lainnya membuat saya berpikir tentang bagaimana bila hobi saya ini bisa menghasilkan uang atau malah menjadi mata pencaharian utama saya. Bukankah ada perkataan yang menyebutkan kurang lebih bahwa ketika kita menemukan pekerjaan yang kita cintai maka selamanya kita tidak akan pernah merasa bekerja. Karena alasan tersebut, saya berusaha mencari tahu apakah ada cara yang bisa saya lakukan untuk mulai merintis karir atau usaha di bidang internet. Setelah googling sana sini, ketemulah bisnis affiliate marketing ala Anne Ahira yang waktu jaman itu juga beliau cukup terkenal karena kisah kesuksesannya sering dimuat di media massa. Saya pelajari hampir tiap hari setelah pulang sekolah menyempatkan diri ke warnet untuk bagaimana cara bekerja bisnis affiliate marketing itu. Cukup pusing bagi saya untuk memahami konsep baru dimana saya tidak punya basic marketing apalagi tentang internet. Saya tidak begitu paham komputer.

Singkat cerita, saya ikutan jadi member Asian Brain dan akhirnya dapet modul-modul tentang affiliate dan internet marketing. Gara-gara itu juga jadi kenal istilah Search Engine Optimization, Adwords, Domain Parking dan beberapa istilah internet lainnya. Baru kenal saja tapi belum terlalu mendalam bagaimana mereka sebenernya bekerja. Pada akhirnya usaha saya bergabung di Asia Brain hanya menghasilkan $48 hingga saat ini di Adsense, bisa dibilang gagal tapi tidak sepenuhnya karena saya sudah mulai membuat progress untuk mengerti bagaimana dunia internet itu bekerja.

Beberapa tahun setelah itu Facebook menjadi idola di dunia internet mengalahkan Friendster dengan fitur photo tagging yg cukup disruptive. Kemudian disusul dengan Twitter yang makin mengukuhkan dimulainya era social media di Indonesia. Internet marketing tidak melulu soal search engine setelah itu, karena ada social media seperti Facebook dan Twitter yang kehadirannya perlu diperhitungkan di dunia internet marketing. Semua orang mulai menekuni social media marketing termasuk saya, mencari apa saja yang bisa menghasilkan keuntungan dari trend baru ini. Usaha saya menekuni dunia social media membuahkan hasil dengan perkenalan saya dengan mentor digital marketing pertama saya, Mas Tuhu Nugraha. Bersama mas Tuhu saya bergabung dengan Virtual Consulting, perusahaan digital agency yang dimiliki oleh Internet Guru Pak Nukman Luthfie. Klien pertama saya Toyota dengan produk mobil Yaris. Bersama Virtual Consulting saya melakukan project social media marketing yang bisa dibilang cukup perdana di tahun 2009. Waktu itu masih menggunakan medium Facebook dan harus susah payah melakukan measurement secara manual karena belum ada fitur Facebook Insight. 

Majalah The Markeeter pernah mengulas pekerjaan social media Yaris dengan tajuk artikel "Yaris Tampil Manusiawi di Facebook". Menunjukan bahwa brand yang terjun di social media memang harus tampil seperti manusia, seperti konsumennya. Dan tentunya dengan adanya social media, brand bisa melakukan percakapan dua arah dimana menjadi sesuatu yang tidak didapat di media tradisional sebelumnya. Karakter dari social media yang kental dengan ilmu komunikasi membantu saya untuk menekuni bidang ini hingga sekarang.

Melalui artikel pembuka ini saya mencoba untuk memberikan kerangka keilmuan yang harus diperdalam ketika seseorang ingin masuk ke dalam pekerjaan digital marketing. Setelah ini akan dibahas tentang konsep Digital Communication yang terbagi ke dalam 3 elemen yaitu Human Computer Interaction, Computer Mediated Communication dan Network Graph. Berikut gambaran konsepnya sebagai rujukan:


Digital Communication Model by Andi Primaretha